Senin, 17 Juni 2019

Melatih Kecerdasan Linguistik Part 2

Bismillahirrahmanirrahim,

Alhamdulillah sudah memasuki hari kelima untuk tantangan game level 3 perkuliahan Bunsay.
Masih dengan tema melatih kercerdasan linguistik Kk Ufa.
Kebetulan saya menemukan artikel yang berisi tentang urgensi kecerdasan linguistik.

* Urgensi Kecerdasan Linguistik :

Terdapat beberapa alasan mengapa kecerdasan Linguistik itu perlu dimiliki oleh setiap anak.
Menurut May Lwin, pentingnya pengembangan kecerdasan linguistik disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut: 
1. Kecerdasan Linguistik dapat meningkatkan kemampuan membaca.
2. Kecerdasan Linguistik dapat meningkatkan kemampuan menulis.
3. Kecerdasan linguistik dapat membangun pembawaan-diri dan keterampilan linguistik umum. 
4. Kecerdasan Linguistik dapat meningkatkan keterampilan mendengarkan.
Kecerdasan yang baik juga berpengaruh terhadap pembawaan diri seseorang. Kecerdasan ini menentukan ketika seseorang berbicara di depan umum. Pendidik perlu melatih kemampuan anak-anak didiknya untuk tampil percaya diri ketika berbicara di depan umum. Pendidik dapat mengikutsertakan anak-anak didiknya pada lomba menyanyi, membaca cerita, membaca puisi atau memberikan kesempatan kepada setiap anak didiknya untuk menyanyi atau membaca cerita di depan kelas. Kegiatan-kegiatan seperti itu dapat melatih anak-anak untuk dapat berbicara di depan umum.
Anak-anak pun dapat terasah kemampuan membawakan dirinya ketika berhadapan dengan banyak orang. 

Sumber : http://alaksamana.blogspot.com/2016/12/kecerdasan-linguistik-pada-anak.html

Dari artikel, tersebut semakin memantapkan saya untuk lebih menggali potensi kecerdasan linguistik Kk ufa yang belum kami explore lebih jauh.
Jika kemarin tentang "Akting berpura-pura sedang berjualan", kali ini saya ingin membiasakan si Kk menumbuhkan rasa sayang dan cinta kepada calon adiknya. Sebenarnya sejak saya dinyatakan positif hamil, Kk Ufa sudah mulai saya sounding bahwa dia akan memiliki seorang adik. Dari situ saya sudah mulai bertekad untuk mencegah sejak dini Sibling Rivalry. Tentu saja pasti ada, namun bukankah Cinta harus dibiasakan dan tidak bisa dipaksakan?. Saya Ingat betul ketika umur 10 tahun saya baru mempunyai adik dan 2 tahun kemudian punya adik lagi, perasaan Sibling Rivalry muncul dengan hebat mengingat jarak lahir kami yang sangat jauh dan tanpa persiapan bagi saya untuk terbiasa menumbuhkan cinta kepada calon adik saya.
Dari pengalaman tersebut, saya berusaha untuk membiasakan sounding ke si Kk Ufa bahwa calon adiknya sangat mencintainya. Setiap hari saya libatkan bercerita tentang perkembangan calon adiknya, bahkan ketika sudah diatas 20Week si Kk sudah bisa merasakan tendangan dd bayi di perut. Efeknya? dia sering berpura2 ikutan hamil dd bayi dan suka sekali menimang bonekanya dan menganggapnya sebagai dd bayi betulan. Saya amati ketika menjenguk kelahiran bayi tetangga kami, dia juga sangat antusias untuk ikut menggendong dan memangku dd bayi.
Nah, salah satu cara untuk membangun chamistry antara si Kk dan si calon adik adalah dengan membuat si Kk bercerita untuk calon adiknya. Ada satu artikel yang berisi kisah nyata, ketika dilakukan USG 4D pada calon bayi yang kakaknya sedang berceloteh maka bayi tersebut tampak tersenyum. Anehnya, ketika si Kk berhenti berceloteh, si calon bayi berhenti tersenyum. Luar biasa bukan? begitu pentingnya komunikasi antara si Kk dan calon adik.
Sepulang kerja, saya meminta si Kk bercerita untuk adiknya. "Nak, dd bayinya pengeeeennn banget diceritain si Kodok dan Si Kancil sama Kk Ufa", pinta saya. "Oh...dd bayinya pingin diceritain yah...siap Bos...", jawabnya antusias seraya mengambil buku cerita kesayangannya. Walaupun buku cerita yang sedang dia baca lebih banyak isi daripada gambar, dia hafal karena sebelumnya pernah saya ceritakan. Melihat cara bercerita dan ekspresi yang ditunjukkan saya geli dan takjub sendiri dengan kemampuan meniru anak kecil seumurannya. Banyak buku yang harus dia baca dan dia taklukan kelak, semoga saya dan suami dimampukan untuk mengajari dan mensupport agar dia cinta membaca :).




#hari5
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional


Minggu, 16 Juni 2019

Melatih kecerdasan linguistik part 1

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah sudah masuk hari ke 4.
Semoga niat saya untuk bisa menyelesaikan tantangan tanpa rapel bisa terpecahkan kali ini😅.

Kali ini saya beralih untuk melatih kecerdasan linguistik kk ufa. Mengapa linguistik?ini berdasarkan pengamatan saya, bahwa si Kk ini suka sekali bercerita dan berkomunikasi. Alih-alih ingin meningkatkan kecerdasan matematis-logis, bagi saya kecerdasan yang lain lebih penting untuk saya gali mengingat usia kk ufa saat ini yang belum saatnya untuk bisa mahir Calistung (baca, tulis, hitung).

Saya kutip sedikit penjabaran dari kecerdasan linguistik menurut Howard Gardner :


KECERDASAN LINGUISTIK
Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan.
Ciri-ciri :

Anda merasa mudah dan percaya diri mengekspresikan diri anda baik secara lisan maupun tulisan. Contohnya, anda pintar dalam berkomunikasi dan pintar dalam menceritakan atau menulis mengenai sesuatu hal.

Sumber : http://mipersis07.blogspot.com/2012/12/8-kecerdasan-menurut-howard-garner.html?m=1

Nah, Kk ufa ini anaknya suka sekali bersosialisasi. Walaupun belum bisa menulis, namun bahasa lisannya cukup baik. Bahkan dia suka sekali meniru gaya bahasa salah satu aktor kartun kesukaannya yaitu "Upin dan Ipin". Banyak kosakata Malaysia yang dia hafal dan justru sering dipakai dalam berkomunikasi. Bagi saya ini PR untuk bisa meningkatkan kemampuan linguistik nya, misal dengan mengenalkan berbagai bahasa asing lainnya. Alhamdulillah, dia juga mahir dengan hafalan warna bahasa Inggris lewat lagu yang diajarkan guru Paud nya. 

Namun kali ini, saya hanya sedikit memancing kemampuan si kk melalui "peran pura2 sebagai penjual makanan". Bagi saya menawarkan jualan dan menjelaskan apa yang dijual merupakan bagian dari berkomunikasi yang baik.
Siang ini, saat saya sedang asyik melipat pakaian, tiba2 si Kk membalik sepeda mininya untuk dijadikan gerobak jualan. "Beli2...siapa nak beli", ucapnya dengan logat Malaysia. "Bunda mau beli, jualan apa Bang?", Sahut saya. " Jual eskrim", jawabnya. "Mau beli yang apa?"tanyanya lagi. "Tadi kan katanya jualan eskrim, emang jualan apalagi?", tanya saya balik. "Jualan eskrim, sama minuman, sama "ABC" (minuman kesukaan upin Ipin), sama rasa coklat, strawberry, melon...", Jelasnya panjang lebar. "Ya uda, bunda pesen rasa melon sama ABC satu ya Bang...", Jawab saya. "Siap, sama minuman satu ya", imbuhnya. "Iya, tapi jangan yang lama-lama ya bikinnya", pesan saya. "Siap bos", jawabnya.

Sebenarnya percakapan selanjutnya cukup panjang, namun belum tercapture divideo yang saya unggah. Yang jelas jiwa berakting dan mendalami peran bagi kk ufa adalah hal yang mudah. Sering saya jumpai setelah melihat video Nussa dan Rara, saya harus ikut2an akting jadi salah satu diantaranya. Karena dia suka sekali meniru setiap adegan di video tersebut dengan detail, hingga gerakaa dan kata2nya.

Nantikan kisah menggali potensi linguistik Kk ufa selanjutnya ya😎😍🤗.



#hari4
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Sabtu, 15 Juni 2019

Melatih kecerdasan emosional part 3

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah masuk hari ketiga,
Masih tentang melatih kecerdasan emosional.
Bagi saya pribadi hari ini adalah hari yang luar biasa membuat saya belajar tentang pentingnya menyaring kata2 dan memahami kemauan  anak.

Selepas pulang kerja seperti biasa, saya ajak Kk ufa untuk menceritakan kejadian seharian yang dialami. Kebetulan hari ini saya dan suami harus masuk kerja padahal hari Sabtu, karena hari pengganti salah satu libur panjangplebaran kemarin. Nah berbarengan dengan adanya undangan ulang tahun temannya. Sebenarnya dari umur setahun kami tidak pernah mengajari untuk merayakan ultah, tapi seiring waktu dari video kartun kesukaannya dan undangan temannya dy jadi tau apa itu ultah😅. Berceritalah dy panjang lebar tentang suasana ultah temannya itu dari dy pakai baju bagus, dapat kue, makan mie, dan memberikan kado yang sudah saya persiapkan sepulang kerja kemarin.

Drama tantrum Kk ufa pun dimulai ketika saya dan suami makan malam bersama. Sebenarnya dy juga ikutan makan mie, tapi maunya di depan TV. Karena tempatnya kurang luas, jadi saya dan suami makan di ruang tamu. Tiba2 dy marah dan saya ga boleh makan, "Bunda jangan makan bareng2!", Sambil menyingkirkan makanan saya. " Lah kenapa nak?kan bunda lapar?tadi bunda ajak makan bareng disini g mau?", Tanya saya, sempat tarik2kan tempat makan😅. " Pokoknya g boleh, g boleh makan", tandasnya. Akhirnya ayahnya ikut bertanya alasan si Kk melarang bundanya makan kenapa, tp dy kekeuh g mau bilang. Akhirnya saya temani dy nonton TV, setelah agak reda marahnya. "Ufa, kenapa nak marah2?", tanya saya. "Ufa mau disuapin bunda, jawabnya lirih. "Oooh, bilang dong, jadi bunda tau maunya Kk ufa", sambil saya ambil mie dan menyuapinya. Seledri menyuapi baru saya lanjut makan malam.

Setelah adzan isya, ayahnya harus berangkat jamaah ke masjid. Nah sementara saya menemani Kk ufa di rumah, ada saja hal2 yang membuat saya emosi. Dari corat-coret muka dan bajunya dengan stabilo, loncat2an di kasur depan TV (kebetulan perut saya sedang agak kontraksi, jadi pingin istirahat), sampai merengek minta gendong. Sebenarnya permintaannya wajar karena mungkin dy kangen sama bundanya seharian, tapi karena kondisi saya kurang fit jadi bawaannya "spaneng". Setelah semua saya turuti, dy masih rewel dan nangis padahal saya harus sholat. Karena sudah lelah jd saya biarkan dy nangis, saya lanjut sholat kemudian istirahat di kamar karena dengar ayahnya datang.

Tiba2 seperti biasa dy loncat2an lagi di kasur kamar, sampai saya g bisa istirahat. "Nak, bunda perutnya sakit, dd bayi di perut pingin istirahat, ufa pergi dulu ke ayah ya...". Nah kata yang dy garis bawahi adalah "pergi". Akhirnya bukannya dy yang keluar kamar, malah saya yang dipaksa keluar kamar. "Bunda pergi, pergi keluar ufa maunya sama ayah g mau sama bunda lagi", teriaknya. Walaupun ayahnya ikut memberikan penjelasan, tetap saja dy kekeuh. Akhirnya saya mengalah keluar kamar, sambil merenung pilihan kata dan intonasi saya ke dy mungkin terlalu berlebihan.

Selang 5 menit, tiba2 Kk ufa keluar kamar sambil minta maaf ke saya. "Maaf ya bunda, kl ufa marah2, bunda temenin ufa bobo masuk kamar yukkk", ajaknya sambil pasang muka sedih. "Ya Uda, kl gitu peluk sama sayangsbunda dong nak", pinta saya. Akhirnya dy menyeruak ke pelukan saya. Sebelum dy tertidur, seperti biasa saya sounding dengan nasehat dan kata2 positif. " Nak, bunda minta maaf juga ya tadi bilang pergi ke Kk ufa, nanti kl ufa marah bilangnya jangan pergi ya...tapi minta peluk bunda", rayu saya. " Pergi...pergi...pergi....", Ucapnya bercanda sambil senyam-senyum. "Pelukk...pelukkk... pelukkk...", Kata saya sambil gemas menggelitik dy. "Trus, kalau menulis itu di kertas ya...kan bunda ud berkali2 mengajari, kalau di muka sama baju kan jadi kotor semua...", tambah saya. "Tapi kan ufa bikin cincin di tangan, trus pingin tulis di baju", kilahnya. "Ufa kan anak Sholihah, anak Sholihah kalau nulis di kertas sayang, kan nanti kasihan bundanya nyucinya susah", jawab saya. "Oh, kasian bunda ya, iya bundaaaa", katanya.

Tentu saja moment berbaikan setelah melewati emosi, bagi saya hal yang sangat mengharukan. Terlebih lagi, kebiasaan minta maaf yang saya ajarkan ke Kk Ufa sudah mulai dipraktekkan dengan baik😍😘.



#hari3
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Jumat, 14 Juni 2019

Melatih kecerdasan emosional part2

Bismillahirrahmanirrahim

Masih dengan tema melatih kecerdasan emosional, dgn partner Kk ufa.

Kalau kemarin melatih empati terhadap ikan, kali ini saya melatih empati kepada kucing.
Kenapa kucing? Karena Kk ufa terbiasa suka menendang dan mengusir kucing saat akan masuk rumah. Sepertinya meniru teman2 sepermainannya, maklum yang sepantaran dengan Kk ufa di lingkungan kami semuanya anak lelaki.
PR bagi kami untuk membuat dy menyayangi hewan.

Nah, ceritanya setelah pulang kerja saya langsung uplek di dapur karena memutuskan untuk memasak di rumah saja. Sayang ada nasi, bisa dibuat nasi goreng hehehe. Ternyata ada sisa tulang dan kepala ikan bekas masak suwir ikan semalam, akhirnya saya minta ke Kk Ufa untuk memberikan untuk si kucing.

Sebenarnya kami tidak memelihara kucing, hanya saja tetangga kami ada beberapa yang memelihara. "Ufa Sholihah, minta tolong dong ini Ikan dikasih buat makan kucing di depan ya nak", pinta saya. "Iya Bunda, didepan sana", seraya menunjuk teras rumah. "Iya nak, sama piringnya juga ditaruh aja ya di depan", jawab saya.
Tak menunggu lama, segera dy bawa piring berisi tulang Ikan kedepan.
Sayangnya si kucing belum ada, tapi selang satu jam saya cek itu tulang ikan sudah bersih😂.

Sebelum tidur, sambil mengelus kepalanya, "Nak, ufa yang sayang sama kucing ya....jangan ditendang, kalau ditendang nanti kucingnya gmn?". " Nanti kalau Ufa tendang, kucingnya kabuuurrr", ucapnya sambil menggoyangkan badannya. "Hmmmm...kl ditendang ya sakitlah, kl mau usir kucing bilang kucing pergi ya....hush2...gitu aja", tambah saya. "Oh iya, sakit ya bunda kl ditendang?", Kilahnya. "Ya iyalah, coba ufa bunda tendang sakit g ya...", Sambil pura2 mau menendang. "Jangan bunda sakitlah, ufa g mau ditendang", sambil menghindar. "Ya sudah ufa kan anak pintar, sayang sama kucing ya nak". "Baik bunda...", Ucapnya sembari minum susu.

Tentu saja sounding seperti ini harus berulangkali, karena namanya anak kecil masih labil. Seringnya ikut2an temannya. Bukan masalah kucingnya, tapi masalah kebiasaannya yang perlu diperbaiki. Karena sekali terbiasa menendang, maka tidak menutup kemungkinan teman2 atau ayah bundanya juga ditendang (walaupun kalau tidur kadang kena tendang juga bundanya😅).





#hari2
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Kamis, 13 Juni 2019

Melatih kecerdasan emosional keluarga bulan part 1

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah sudah masuk di game level 3🤗

Walaupun sedikit terseok-seok dengan status rapel dan harus puas dengan perolehan badge dasar 😅

Kali ini saya mencoba posting di blog, karena selain mudah di edit juga bisa dicopas ke medsos nantinya.

Awalnya yang saya tau kecerdasan itu ada 3, Kecerdasan Intelektual (Intelectual Quotient), Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient), dan Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient). Ternyata ada satu lagi kecerdasan yang tak kalah penting yaitu Kecerdasan Menghadapi Tantangan(Adversity Quotient). Ada juga yang mengganti kata Quotient dengan Intelligence.

Nah yang menjadi PR urgent di keluarga kami adalah masalah pengelolaan emosi. Kebetulan saya, suami, dan anak sama2 memiliki emosi yang kadang meledak-ledak. Tentu saja didepan anak kami sebagai orang tua mengusahakan tidak menunjukkan emosi tersebut, namun sadar atau tidak terkadang masih terbawa dalam pengasuhan kami.

Untuk hari pertama partner saya adalah Kk ufa. Kebetulan hari ini dapat ilmu baru tentang cara untuk mengelola emosi. Salah satunya adalah dengan menumbuhkan "empati". Ya...dengan tumbuhnya empati yang baik pd diri seorang anak, akan menekan anak tersebut melukai/merusak makhluk hidup lain/barang2 sekitarnya.

Ceritanya sepulang kerja seperti biasa saya jemput Kk ufa di rumah pengasuh kami. Namun ternyata dia diajak menghadiri hajatan kerabat pengasuh saya. Akhirnya dia diantar ke rumah sedikit larut, menjelang isya' baru sampai. Sesampai di rumah saya pancing untuk bercerita. "Kk ufa td habis darimana?". "Habis dari jalan2, sama ibu, sama bapak, jauuuuhhh...", Celotehnya. "Kok ayah sama bunda ga diajak?kan jadi sedih, bunda kangen bgt sama Kk ufa", sambil saya pasang raut muka sedih. "Lah....kan bunda sama ayah kerja, belum pulang2....tak apa kok...kan ufa juga diantar pulang", katanya seraya menenangkan hati saya.

Nah pembahasan selanjutnya masalah ikannya yang tiba-tiba mati karena diserang oleh ikan lain sepertinya. "Ufa...tau ga ikannya ufa ada yang mati lho...dimakan temennya", pancing saya. "Hah?mana??iya ikannya mati....kasihan ikan...", Ucapnya sedih. Eh pas saya minta pegang bangkai ikan, dy malah ketawa geli😅. " Ufa, bilangin dong sama Ikan yang besar, jangan makan temen mu dong, kan kasihan nanti mati", ajak saya. "Ikan jangan digigit, nanti mati", ucapnya. Tapi buru2 komplain dengan ajakan saya, "dia ga denger ufa", sambil kesel karena dy paham ikan ga bisa bicara😂, apalagi diajak bicara.

Alhamdulillah, setidaknya si Kk ufa logikanya sudah mulai berkembang, dan empatinya harus terus diasah lagi.







#hari1
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Rabu, 13 Maret 2019

NICE HOMEWORK Adab Menuntut llmu X CoC

 

PRA BUNDA SAYANGINSTITUT IBU PROFESIONAL

NICE HOMEWORK

Adab Menuntut llmu X CoC
1. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu Bunda Sayang?

Saya seorang Ibu bekerja yang masih menanggung biaya adik-adik. Sedangkan di sisi lain khawatir tidak bisa menjadi Ibu yang baik bagi anak saya Ufairah (3 th) dan merasa masih belum menjadi istri yang bisa bersinergi dengan baik untuk suami.



    
    2. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?


3. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki
    dalam proses mencari ilmu tersebut
    

STUDI KASUS
Tuliskan kembali sikap,
tanggapan, pendapat Anda!
  
     1.   Program Kuliah Bunda Sayang diikuti oleh Ibu dan Calon Ibu yang memang tertarik untuk mempelajari 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak. Artinya, keikutsertaannya merupakan komitmen yang hadir dari faktor internal. Dalam perjalanannya, tantangan kesibukan selalu ada. Godaan saat mengikuti jadwal kuliah dan membuat setoran bisa menghampiri. Bagaimana Anda mengantisipasinya?
Ø  Untuk memperoleh ilmu memang selalu ada tantangannya. Baik Ibu bekerja di ranah publik maupun domestik sama lelahnya. Kunci untuk bisa melaluinya adalah dengan “Niat” yang sungguh-sungguh , Management “Waktu”. Dan yang tak kalah penting adalah Management “Hati”. Saya yakin setiap Ibu dan Calon Ibu mempunyai “ Bank Semangat” masing-masing. Sehingga, jika dirasa “Saldonya” menipis, maka bersegera untuk mencari “Sumber Semangat”.

     Saya pribadi, sumber semangat yang paling besar adalah Anak, Suami, dan Adik-adik. Selain itu, sempatkan untuk selalu memunculkan kesadaran dalam diri bahwa betapa “Fakirnya” diri ini akan ilmu dan betapa masih jauh diri kita dari kriteria Ibu dan Istri yang Sholehah.

              
     2.   Dalam sebuah diskusi di kelas Bunda Sayang, Fasilitator menyampaikan pendapat, pengalaman dan jawaban atas pertanyaan dan topik yang diajukan. Namun ada juga mahasiswi, yang memiliki pendapat berbeda. Ada yang menyampaikannya secara langsung di kelas, ada yang menyampaikan melalui pesan pribadi. Fasilitator menerima berbagai masukan yang ada, kemudian menyampaikan tanggapannya di kelas. Jika Anda punya pendapat yang berbeda, bagaimana Anda menyampaikan pendapat tersebut? Dan seandainya setelah disampaikan, tidak ada titik temu, bagaimana Anda menyikapinya?

Ø  Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dan justru bagus sekali untuk bahan diskusi (brainstorming) antar mahasiswi. Saya pribadi jika ada beda pendapat cenderung terbuka dan segera menyampaikan langsung di forum. Kecuali jika menyangkut hal pribadi / rahasia baru saya sampaikan melalui pesan pribadi.

Ø  Jika tidak ada titik temu, maka yang paling baik adalah mengambil pendapat yang paling bermanfaat untuk semua anggota / bisa juga dengan voting yang paling banyak dipilih. Setelah itu menyerahkan kepada Fasilitator untuk membantu memutuskan, karena beliau terlebih dahulu menguasai ilmu.

     3.   Materi dan Tantangan Bunda Sayang benar-benar terasa manfaatnya. Bagaimana cara Anda berbagi kebahagiaan, manfaat dan hikmah yang telah didapat pada keluarga, teman atau lingkungan?

Ø  Saya teringat pesan Bu Septi “ Bersungguh-sungguhlah ke dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik”.
     Maka saya harus bisa memberikan contoh / tauladan yang baik agar orang lain dan lingkungan bisa merasakan ilmu yang saya peroleh.
     Nah, bagaimana caranya? Tentu dengan menerapkan ilmu dengan istiqomah.

    4.   Kuota penerimaan Mahasiswi Bunda Sayang masih terbatas. Banyak yang menanti pendaftaran Kuliah Bunda Sayang, namun belum berhasil mendapatkan kuota. Ada pula yang berhasil diterima, namun di tengah jalan harus mundur, cuti bahkan remedial. Bagaimana Anda menyikapinya?

Ø  Saya yakin sekali di dunia ini tidak ada hal yang semata-mata kebetulan tanpa campur tangan Allah SWT. Maka saya bisa sampai pada tahap ini merupakan sebuah amanah, peluang, dan kesempatan yang diberikan oleh Allah. Maka seyogyanya sebuah amanah harus dijalankan dengan baik “Seoptimal Mungkin”. Jika tidak ada hal yang sangat “Penting-Mendesak” maka saya akan berupaya untuk menyelesaikan perkuliahan ini dengan sebaik-baiknya. Memang ada sedikit kekhawatiran mengingat saat ini saya sedang hamil, maka saya juga harus mempersiapkan kondisi dimana harus fokus pada persalinan dan mengurus 2 anak nantinya.

     Saya pun teringat pesan Fasilitator saya di Matrikulasi, yaitu Mb Mega Geo Tirta “ Bergerak saja...Biar Allah yang mengarahkan langkah kaki menuju Ridho-Nya”.


#Kesimpulan Diskusi di Peer Group : 


1. Untuk mengatasi naik turunnya semangat dalam belajar kuncinya adalah niat, komitmen, Melakukan manajemen waktu, hati, dan menjaga fisik serta jiwa kita. Dan yang paling penting adalah mengikat ilmu dengan "menulisnya".
2. Perbedaan pendapat adalajahal yang wajar, kita harus menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Jika ada perbedaan pendapat maka disampaikan saja di forum, jika bersifat pribadi maka disampaikan melalui jaringan pribadi. Bagaimana jika tidak menemukan titik temu? Pertamakali harus melihat dari segi positif yaitu tetap bahagia, mengambil keputusan bersama bisa dengan keputusan yang paling bermanfaat/terbanyak mrlalme voting, kemudian meminta fasilitator untuk membantu memutuskan.
3. Cara terbaik agar orang lain dan lingkungan merasakan ilmu yang kita peroleh adalah dengan mempraktekkan /memberikan tauladan yang baik dimulai dari diri kita sendiri, kemudian menularkannya kepada orang serta lingkungan dengan berbagai cara. Bisa dengan diskusi, menularkan sikap kita secara langsung(tauladan), atau mempostingnya di medsos.
4. Bisa masuk di kelas Bunda Sayang adalah kesempatan yang patut kita syukuri. Oleh karena itu kita harus bersungguh-sungguh dalam  menuntut ilmu dengan cara ikhlas, meluruskan niat karena Allah, selalu ingin tahu, tabah, mempelajari ilmu sebelum dibahas, dan meminta keridhoan serta bimbingan dari Fasilitator.


*Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan

hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia*


Tugas Kongres Ibu Pembaharu 2

 Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillah, masih sempat untuk submit tugas Kongres, mengingat jurnal sebelumnya belum submit, walaupun terlam...